Opini : Pasukan Khusus Militer Rentan Dimanfaatkan

Dalam sebuah Video yang beredar, seperti dilansir oleh situs youtube.com yang dipublikasi kanal sofrep. Digambarkan peristiwa pertempuran sengit US Army Special Force ( Green Berets) ketika disergap kelompok bersenjata ISIS di wilayah barat daya Niger atau sebelah utara Niamey, perbatasan Mali.

Pada pertempuran itu terlihat perlawanan yang ditunjukan oleh personil Green Berets. Berbekal senjata seadanya personil yang mendampingi tentara Niger itu, mencoba bertahan di balik kendaraan SUV yang terus bergerak menjauh dan balas menembak musuh yang tidak terlihat jelas keberadaannya.

Dalam video berdurasi 5,3 menit itu, personil pasukan elit Amerika Serikat ( AS) ini terus menembakan objek yang berada di antara garis garis pohon, tempat diperkirakan sumber tembakan musuh berasal.

SUV yang disetir oleh Sersan Dustin Wright terus menjauh dari tembakan. Sersan Bryan C Black yang berada disamping mobil tertembak. Terdengar teriak memanggil”Black”. Seseorang ( Sersan Jeremiah Jhonson ) memeriksa Sersan Black yang tertembak, tubuhnya sudah tidak bergerak.

Diantara desingan peluru, tiba tiba Sersan Jeremiah dan Dustin Wright bergerak berlari melewati padang pasir. Sersan Jeremiah jatuh tertembak, terlihat ia masih hidup.

Sersan Dustin Wright berbalik sambil menembak musuh berlari menuju ke rekannya sersan Jeremiah. Tapi, kemudian Ia juga tertembak.

Itulah adalah menit-menit terakhir dalam kehidupan tiga serdadu Amerika yang terbunuh saat penyergapan militan ISIL di padang gurun Niger.

Pertempuran itu terjadi tanggal 4 Oktober 2017 lalu, dan terekam dari kamera helmnya anggota Green Beret yang juga ikut tewas bersama 2 orang rekannya dan lima tentara Nigeria.

Orang Amerika keempat, Sersan. La David Johnson, yang terpisah dari kelompok itu. Itu adalah korban jiwa terbesar tentara AS sejak operasi mereka di Niger.

Terbunuhnya personil pasukan yang memiliki motto ” De Oppresso Liber ” itu, dalam serbuan yang dianggap tidak terduga menimbulkan pertanyaan dan keraguan keraguan dari banyak pihak. Spekulasipun bermunculan, menduga duga dari sudut pandang yang beragam.

Mengutip situs businessinsider.sg Green Berets adalah Satuan Pasukan khusus angkatan darat AS yang berdiri tahun 1952 itu, saat presiden Jhon F kenedy memimpin negara adikuasa itu .

Pasukan elit ini dianggap paling berpengalaman dan memiliki infrastruktur yang lengkap dibanding special force army lainnya. Mereka, unit tempur yang siap untuk segala jenis peperangan inkonvensional dan misi-misi rahasia.

Peran Prajurit Baret Hijau sebagian besar ahli dalam pengumpulan informasi intelijen dan serangan tempur di belakang garis musuh. Mereka juga terlibat di dalam pelatihan pasukan anti- pemberontak di wilayah musuh, dengan misi inkonvensional dan anti-teroris.

Ukuran dan cakupan operasi Green Beret yang luas, memberikan banyak pilihan bagi kebijakan militer Presiden AS saat ada situasi yang membutuhkan pendekatan militer.

Sebagai bagian Komando pasukan utama anggkatan darat, hampir semua wilayah konflik di dunia pernah menjadi daerah operasi mereka. Mulai perang dunia II, perang Korea,Perang Dingin,Perang sipil Laos, perang bosnia, kosovo, hingga operasi resolusi Antlantik.

Kembali kepada persoalan terbunuhnya personil militer pasukaan khusus AS di Niger yang mengemuka dan menjadi isu publik.

Di AS sendiri, kematian anggota pasukan yang bermarkas di Fort Bragg ini menimbulkan kontroversi dan spekulasi. Banyak pihak yang tidak menyangka terbunuh pasukan elit mereka dalam situasi seperti itu.

Dari rekaman video itu terlihat kendaraan dan peralatan senjata yang digunakan nampak seadanya. Artinya, saat itu mereka memang tidak mempersiapkan diri bila sewaktu waktu ada pertempuran atau serangan musuh.

Biasanya Pasukan elit sekaliber baret hijau bergerak secara sistematis dan terencana, selalu menggunakan data intelijen dengan analisa yang ketat dan tepat serta selalu diback up pasukan selalu siap dan siaga apabila dibutuhkan.

Yang terjadi saat itu sungguh mengherankan, tidak ada bantuan atau back up pasukan ketika pertempuran terjadi. Setelah satu jam baru ada permintaan bantuan. Itupun menjadi pertanyaan, kenapa permintaaan bantuan pesawat ditujukan kepada Perancis bukan AS.

Pentagon sendiri sebagai pusat komando militer di negeri Pamam Sam itu, tidak memiliki informasi lengkap terkait operasi dan kematian personil tentara mereka.

Baru kemudian Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford yang merupakan jenderal tertinggi di AS akhirnya memberikan penjelasan meski informasi yang disampaikannya terkait situasi tersebut masih sangat kurang dan terkesan banyak ditutupi.

Sehingga muncul spekulasi bahwa Personil pasukan khusus tersebut melaksanakan misi diluar komando dan di luar koordinasi kesatuan.

Spekulasi inilah yang coba digiring oleh Markas Besar militer. Kurangnya informasi merupakan jawaban klise militer dimanapun berada ketika misi rahasia mereka gagal dan bocor kepublik.

Dengan dalih melakukan investigasi lebih menyeluruh serta butuh waktu untuk mengkonfrimasi, menjadi alasan klasik militer untuk berupaya mencari kambing hitam dan mengendapkan kasus itu hingga publik bosan dan lupa dengan sendirinya.

Bocornya video rekaman itu merupakan tamparan telak kepada milter AS, terutama petinggi militer yang merencanakan misi rahasia itu. Video yang kadung beredar itu di media sosial itu diduga lebih dulu diambil pihak pemberontak/militan dan disebarkan ke internet oleh ISIS sebagai alat propaganda mereka.

Seandainya video tersebut tidak ada, kemungkinan besar kasus terbunuhnya prajurit US Army Special Forces (USSF) itu tidak sampai diketahui publik. Hanya keluarga korban dan pihak militer saja yang tahu.

Padahal Green Berets sudah 20 tahun lebih beroperasi di negara itu, Niger Afrika Barat sejak Geoge Bush Jr menjadi presiden. Otomatis, merek sangat mengusasi wilayah itu. Sekarang AS mereka sudah membangun pangkalan militernya di Niamey ibukota Niger.

Kehadiran pasukan AS di Niger merupakan misi kontraterorisme yakni melatih dan membantu mitra lokal dalam melawan kelompok al-Qaeda dan ISIS yang beroperasi di wilayah tersebut.

Johnson dan 12 anggota skuad lainnya dirancang khusus untuk melatih militer Niger. Mereka hadir disana bukan dipersiapkan untuk bertemu dan berhadapan dengan musuh dan harus bertempur.

Hari sebelum kejadian tanggal 3 Oktober, mereka mendampingi pasukan Niger untuk monitoring yang merupakan operasi yang cukup rutin.Kemungkinan kontak musuh dianggap tidak akan terjadi.

Penilaian itu ternyata sangat salah. Kesokannya 4 Oktober, ternyata mereka berpapasan dengan pasukan musuh, militan lokal yang berafiliasi dengan kelompok ISIS setempat yakni Islamic State in Greater Sahel (ISGS).

Jika koordinasi berjalan sesuai komando,sangat kecil kemungkinan intelijen memberikan informasi yang salah atau keliru menyimpulkan operasi itu berisiko rendah.

Bahwa pasukan ini tidak mendapatkan data intelijen dan masukan dari analisis kesatuan karena mereka memang bergerak sendiri, itu yang coba dibangun Pentagon.

Spekulasi lain yang muncul yakni mengapa setelah satu jam pertempuran, pasukan Johnson baru meminta bantuan. Mengapa mereka meminta bantuan pesawat Perancis untuk menyelamatkan pasukannya.

Padahal butuh waktu setengah jam untuk jet Perancis bersiap-siap, dan setengah jam lagi mereka tiba di tempat kejadian. Bala bantuan darat dari militer Niger menyusul beberapa saat sesudahnya.

Memilih pesawat Perancis , mungkin menjadi alasan agar misi ini tidak diketahui oleh personil lain atau kesatuan lain di US Army.

Kemudian,yang aneh dalam kejadian ini adalah mengapa jenazah Sersan La Davit Jhonson baru ditemukan setelah dua hari dan dilokasi berbeda.

Apakah ia ditembak militan ISIL atau ada pihak lain yang berupaya menghilangkan jejak misi tersebut.

Sersan La Davit Jhonson disebut sebut sebagai pemimpin dari misi, dan dia dianggap personil yang paling tahu maksud dan tujuan dari misi yang mereka jalankan dan yang memberi perintah.

Hasil Investigasi

Tanggal 10 Mei 2018 lalu, seperti diberitakan situs nytimes.com,Departemen Pertahanan ( Dephan) AS merilis hasil investigasi terkait kematian Sersan La Davit Jhonson dan 3 prajurit lainnya di Niger.

Meski mereka telah melakukan rekontruksi terhadap peritiwa itu dan menvisualisasi melalui video namun rilis itu tidak memberikan kemajuan yang berati.

Dephan menyatakan adanya kesalahan di persiapan. Tim 11 anggota Baret Hijau yang bertempur melawan militan ISIS di Niger, sebelumnya tidak menjalani pelatihan penting sebagai satu unit sebelum dikerahkan ke Niger.

Dephan mengakui adanya kesalahan perwira junior yang karena rotasi tugas tidak sempat memberikan pelatihan khusus kepada tim tersebut.

Dephan juga menyampaikan fakta baru terkait situasi sebelum penyergapan terjadi. Saat 3 oktober 2017 pejabat intelijen Amerika mendeteksi kemungkinan lokasi seorang pemimpin teroris lokal yang, dengan beberapa akun, terkait dengan penculikan seorang warga negara Amerika.

Tim penyerang telah disiapkan dengan kekuatan helikopter untuk menangkap militan tersebut. Namun pada menit terakhir dibatalkan, malah ditugaskan kepada 11 personil tim La Davit Jhonson untuk menggantikannya.

Hasil investigasi itu mendapat kritik keras dari media dan publik. Hasil temuan itu tidak memberikan jawaban atas spekulasi dan pertanyaan yang beredar selama ini. Tidak memberikan rekomendasi korektif, pihak pihak yang harus disalahkan

Malah menimbulkan pertanyaan baru, seperti bagaimana bisa komandan senior yang telah memerintahkan sebuah tim yang tidak siap dan tidak dilengkapi dengan baik dalam pencarian seorang pemimpin militan lokal di padang pasir gurun Niger barat dengan resiko tinggi?

Siapa yang memesan misi, dan mengapa AS yang begitu lengkap persenjataan tempurnya hanya memberi sedikit senjata berat dan tidak ada kendaraan anti peluru kepada pasukan dengan misi berbahaya? Apalagi musuh yang dihadapi berjumlah besar, tidak seimbang dengan pasukan AS yang hanya belasan personil.

Bukan menjadi rahasia lagi, jika petinggi militer AS sering mendapatkan order projek rahasia, pesanan dari perusahaan internasional yang memiliki kepentingan di Afrika.

Personil pasukan khusus inilah yang dengan alasan tugas negara dan loyalitas, biasa dimanfaatkan untuk menjalankan misi order proyek dari perusahaan besar tersebut.

Salah satu kerentanan dari profesionalitas dan loyalitas seorang pasukan khusus dalam militer adalah, banyaknya misi rahasia yang ditunggangi kepentingan pejabat militer dan politik di negara itu.

Apa yang dialami oleh Personil Pasukan Green Berets di Niemey, di Niger itu mungkin menjadi contoh kerentanan itu.

Loyalitas dan profesionalisme membuat mereka harus patuh pada pimpinan dan negara. Dan mengerjakan tugas itu sepenuh hati dan jiwa, meski nyawa menjadi taruhannya.

Sumber :

Businessinsider.sg

youtube.com

Www.nytimes.com

Www.jejaktapak.com

www.angkasareview.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *